Kayoon Tempo Dulu: Sebuah Perumahan Elite

bunga segar, bunga kering, taman buatan yang bagus baik impor maupun lokal.

Terletak di Jalan Kayoon, dekat Kalimas dan dekat dengan jalan Panglima Sudirman, pasar bunga Kayoon merupakan pasar bunga terbesar dan terlengkap di Surabaya, dimana terdapat berbagai jenis bunga tropis dapat dibeli di sini. Di sisi selatan pasar bunga, kita bisa menikmati berbagai makanan khas Jawa Timur yang tersedia di pujasera tersebut.

  Namun tahukah Anda bahwa dulunya Kayoon merupakan sebuah perumahan paling bergengsi di Surabaya…?

Pasar Bunga Kayoon Tempo Dulu

Kayun adalah nama daerah perumahan elite Surabaya sekitar tahun 1920-1940. Pada saat itu Kayoon sekaligus menjadi perbatasan timur kompleks segitiga berbentuk elips Embong-wijk. Perumahan ini memiliki pemandangan khusus di sepanjang jalan Kayon yang menghadap timur dan tepi laut! Mungkin pemandangan seperti itu memang model lanskap yang paling diminati oleh para warga kota berkebangsaan Belanda itu. Kayun (Kayon atau Kajoon) sendiri berasal dari kosakata bahasa Jawa. Kata ini paling sering muncul dalam pertunjukan wayang kulit. Pada setiap pemisahan pemberontakan adegan, sebuah gunung (seperti yang terlihat di satu sisi mata uang House Gadang Rupiah 100 dolar) menjadi tanda.

Saya Ngayunaning Sang Pangeran

Kamus Jawa-Inggris oleh Elinor Clark Horne (1974) menulis Kajun/Kayun yang berarti sebagai harapan, tujuan, keinginan. Intinya adalah ajun (kosakata sintetis) yang identik dengan arep (versi harian). Ini juga berarti hidup (hidup) atau hidup atau lebih luas bisa berarti kenyataan (life). Contoh berikut ini menunjukkan betapa sulitnya menangkap kedalaman kosakata Jawa untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “sayan ngayunaning sang pangeran” = “sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan”. Sedangkan makna doa disini bukan hanya sholat tapi ada realitas, makna hidup, kehidupan yang hidup dan menghargai kehidupan seperti orang Bali menghargai dan menghargai kematian. Dalam seni wayang memiliki sebuah buku berjudul “Beyond Translation” oleh A.L. Becker (1975: hlm. 42-43), mengatakan bahwa Kayun memiliki arti sebagai berikut:

“Konsep waktu di wayang tidak ada batasnya, tapi pastinya bukan timeline. Exception atau coinsiden tidak abadi. Pertunjukan wayang itu sendiri secara simbolis satu hari. Fenomena aneh ini perlu disebutkan disini. Pemandangannya ditandai dengan wayang besar. Stiliran dari pohon atau gunung yang disebut Kayon atau gunungan. Pada pertunjukan yang biasanya diadakan di malam hari, kayon menandai perjalanan imajiner matahari dari timur ke barat yang diciptakan oleh efek pencahayaan dan bayang-bayangnya (biasanya sengaja mengatur pertunjukan di seberang timur-barat, atau jika tidak mengizinkan utara-selatan dengan utara sebagai pengganti timurnya). Kayon adalah jam dramatis yang hanya menandai urutan atau kronologi plot dalam cerita daripada urutan waktu seperti pada jam tangan pengamat”.

Melihat arti kata Kayun dan menamai jalan Kayun sepertinya menemukan kecocokan yang sepertinya bukan kebetulan. Siapa pun yang menyebut jalan itu kayun mungkin memiliki wawasan mendalam tentang sastra Jawa. Sebuah kawasan mengenang semua orang kaya di Surabaya dengan pemandangan sungai yang indah. Jauh dari keramaian Kota Tua (Jembatan Merah dan sekitarnya) namun tidak terlalu jauh dengan Tunjungan dan kawasan Simpang sendiri menjadi pusat kota Surabaya yang baru.

Puter Kayon

Istilah lain yang harus diketahui oleh semua warga Surabaya adalah istilah “Puter Kayon”, Hein Buitenweg dalam bukunya “Krokodillenstad” – Crocodile City (1980). Buku yang berisi foto-foto Surabaya bersamaan dengan nostalgia di setiap foto yang merekam aktivitas Puter Kayoon yang Banyak orang muda Belanda di Surabaya saat sore tiba.

Kayoon Tempo Dulu Sebuah Perumahan Elite

Menyewa kereta atau mobil melintasi putaran Embong-wijk dari Kaliasin (persimpangan farmasi). Sampai Patung Karapan Sapi beralih ke Panglima Sudirman. Belok kanan ke Hotel Brantas. Dan belok kiri jalan Kayun menuju jalan Simpang (belakang Pemuda) kembali ke titik awal. Kegiatan untuk menikmati cuaca yang sejuk di sore hari setelah panasnya hari adalah relaksasi yang sangat menikmatinya. [gallery size="medium" ids="37974,37975,37976,37977,37978,37979,37980,37981,37982"] Saat ini, jika kita ingin menikmati udara sejuk di jantung kota Surabaya, jangan sampai ke mal ber-AC karena kedinginan sudah kering, pergilah ke Pasar Bunga Kayun dan nikmati suasana yang berbeda antara bunga yang dijual oleh toko bunga di Surabaya ESFlorist. Mungkin inilah satu hal yang tetap merupakan hak istimewa Kayun dalam sejarah Surabaya.]]>

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan